Tribun Manado, 12 Juni 2011
(dicopy)
Kisah Para Rasul 2: 1- 11, I
Korintus 14:1-25, Galatia 5:22
Karolina Augustien Kaunang
Dekan Fakultas Teologi UKIT
Salam dalam Kasih Kristus
Terlalu sering kita mendengar
orang berkata ‘nah ini/itu bahasa roh’ saat mendengar ada orang berbicara
dan atau berdoa dengan bahasa yang tidak dimengerti bahkan bahasa yang tidak
ada dalam kamus manapun. Orang yang berbahasa seperti ini sering dianggap mempunyai
karunia roh yang tingkat kerohaniannya lebih tinggi. Apakah benar demikian?
Mari kita lihat apa kata Alkitab tentang bahasa roh. Tiga bagian Alkitab yang
diangkat dalam renungan ini menjadi dasar telaaah bersama. Tentu saja
dalam waktu dan sarana yang terbatas ini hanya akan ditelaah secara umum.
Hari Minggu tanggal 12 Juni 2011
ini adalah hari Raya Gerejawi yaitu Pentakosta. Pentakosta adalah kata Yunani
“Pentekoste” yang berarti hari yang kelimapuluh. Dalam konteks peristiwa Paskah
Yesus Kristus, penentuan hari ini dihitung 50 hari sejak hari raya Paskah atau
10 hari sesudah hari raya Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga yang berjarak 40 hari
sesudah hari raya Paskah. Tanggal 12 Juni adalah tanggal bersejarah bagi Gereja
Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang menetapkannya sebagai hari Pekabaran
Injil (PI) dan Pendidikan Kristen (PK) GMIM. Tahun ini PI dan PK berusia
180 tahun.
Tahun ini bertepatan dirayakan
hari Pentakosta dan hari ulang tahun PI dan PK GMIM. Kebertepatan
hari ini punya arti tersendiri karena hakikat dari hari Pentakosta
menjadi dasar dari tugas pekabaran Injil dan pendidikan Kristen. Pentakosta
juga dikenal sebagai hari lahirnya Gereja di mana Roh Kudus dicurahkan kepada
para murid dan semua orang yang hadir dalam peristiwa itu.
Roh Kudus dikaruniakan
kepada para murid untuk berbicara atau bersaksi kepada semua orang yang
berkumpul waktu itu. Orang-orang yang berbeda-beda bahasa dapat mendengarkan
Firman Tuhan dalam bahasanya sendiri dari orang (para murid Yesus) yang dikenal
sebagai orang Galilea. Dapat kita bayangkan ketercengangan orang banyak
waktu itu. Murid-murid yang adalah orang Galilea itu dapat bersaksi dalam
bahasa orang lain a.l. Asia ( ayat 9) dan Arab (ayat 11). Ini luar biasa.
Dari cerita ini, kita tahu bahwa
yang disebut bahasa Roh ialah bahasa yang dimengerti oleh para pendengar. Maaf…
bukan bahasa komat-kamit yang tidak dimengerti oleh para pendengar.
Bahasa roh adalah bahasa
yang dipakai oleh manusia untuk mengkomunikasikan sesuatu. Bahasa-bahasa di
dunia ini adalah pemberian Allah agar di antara manusia dapat saling mengerti,
memahami dan menerima kenyataan kepelbagaian. Kepelbagaian itu yang mengayakan
kehidupan bersama.
Kekayaan karena kepelbagaian ini
mendewasakan setiap orang untuk siap menghadapi kenyataan apapun tanpa
kehilangan jati dirinya yang otentik. Hanya orang dewasa dalam arti menerima
dengan aktif kenyataan kepelbagaian ini yang dapat hidup tentram dan damai
dengan siapa saja.
Dengan bahasa kita berkomunikasi
dan membangun kehidupan bersama. I Korintus 14: 1-25 menyampaikan kepada kita
tentang permasalahan di sekitar bahasa roh. Bahasa roh harus ditafsirkan,
bahasa roh menggunakan kata-kata yang jelas. Bila tidak ada yang menafsirkan
dan kata-kata tidak jelas, maka bahasa roh itu tidak ada faedahnya.
Bahasa roh itu harus dimengerti
oleh para pendengar( Jemaat) agar jemaat dapat dibangun atau untuk membangun
jemaat. Bila karena bahasa roh lantas jemaat terpecah atau berpecah-pecah maka
itu pertanda bahwa bahasa roh itu bukan bahasa dari Roh Kudus yang dituangkan
pada hari Pentakosta.
Rasul Paulus berucap “Aku mengucap
syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari
pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima
kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada
beribu-ribu kata dengan bahasa roh.” (ayat 19-20).
Dengan bahasa yang dimengerti maka
Injil Yesus Kristus dapat disebarkan di mana-mana termasuk diperdengarkan di
tanah Minahasa oleh para misionaris/zendeling yang datang dari Belanda
(Schwarz) dan Jerman (Riedel). Berita Injil atau berita sukacita atau kabar
baik disampaikan dalam bahasa yang dimengerti, sehingga hari demi hari banyak
orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus.
Pertanyaan kita ialah apakah
bahasa yang dipakai oleh GMIM sekarang adalah untuk membangun Jemaat? Apakah
komunikasi di antara warga gereja komunikatif? Apakah kalimat dalam tata
ibadah, dalam surat-surat keputusan, dalam khotbah, dalam pembinaan, dalam
pertemuan adalah bermanfaat untuk membangun persekutuan jemaat? Kalau di antara
warga jemaat saja sudah tidak saling mengerti, memahami dan menerima, bagaimana
dengan warga publik di sekitar kita? Kalau GMIM dalam sejarahnya menjadi
pelopor dalam pendirian sekolah-sekolah mulai TK sampai Peruruan Tinggi, lalu
bagaimana kondisi pendidikan ini sekarang?
Seratus
delapan puluh tahun PI dan PK GMIM adalah momentum penting untuk berintrospeksi
dan bertindak bersama tentang hakikat menggereja dalam misi yang holistik.
Saat-saat ini adalah saat untuk bertanya apakah Roh Kudus ada di antara dan
bersama kita? Apakah buah Roh (Galatia 5:22) nampak dalam bergereja ? Untuk itu
saya mengajak kita berdoa sebagaimana pernah menjadi tema Sidang Raya PGI yaitu
“Ya Roh Kudus, baharuilah dan persatukanlah kami.” Amin. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar