Senin, 01 September 2014

Sekularisasi dalam Wacana

SEKULARISASI DALAM WACANA *
Karolina Augustien Kaunang

Sekularisasi terlalu sering diidentikkan dengan sekularisme, westernisasi, kekristenan bahkan atheisme. Sekularisasi menjadi bahan pertentangan dalam masyarakat beragama. Ada yang menerimanya sebagai suatu keharusan di jaman modern bahkan pasca modern ini, ada pula yang menolaknya sebagai arus pengkafiran yang menolak agama dan spiritualitas.  Ada pula yang menentangnya secara membabi buta dan fanatik, ada yang memujinya tanpa mengerti baik pokok maupun segala akibatnya. Demikian P.A.Heuken menulis “Kata Pengantar Sekularisasi : Bahaya atau Berkat” dalam buku Colin Williams : Iman Kristen dalam Abad Sekulir. Adanya penerimaan dan penolakan di atas mempengaruhi kehidupan beriman secara pibadi maupun komunitas. Chris Hartono menulis bahwa terdapat jemaat yang pietis dan jemaat yang sekuler  sama sekali.
Etimologi
Sekularisasi berasal dari kata Latin “saeculum” yang berarti “dari zaman ini”, atau “berhubungan dengan dunia ini”. Saeculum adalah sebuah kata menerangkan waktu, menunjukkan dunia dalam segi waktunya. Kata Latin lainnya untuk dunia ialah “mundus” yakni suatu kata yang menerangkan ruang, menunjukkan dunia dalam segi ruangnya, dunia ruang. Dalam bahasa Yunani, untuk saeculum dipakai kata “aion” yang berarti zaman atau periode, satu masa. Sedangkan untuk kata mundus dipakai kata “kosmos” yang berarti alam semesta.
Pengertian sekularisasi sangat berkaitan dengan pandangan orang Yunani dan orang Yahudi tentang dunia.Orang Yunani mengerti dunia pertama-tama sebagai suatu tempat, suatu ruang. Gambaran tentang hidup dan dunia ini disusunnya menurut ciri ruang secara bertingkat seperti dunia ini, dunia akhirat atau sorga dan segala yang sorgawi. Kebenaran dan kenyataan yang sesungguhnya tidak mengenal waktu. Sedangkan orang Yahudi melihat dan mengerti dunia dari segi waktu. Hidup di dunia ini dimengertinya atas dasar peristiwa-peristiwa yang diimaninya sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu. Dalam pemahaman ini, dunia tidak berada dalam keadaan statis, melainkan senantiasa menjadi terus menerus, bergerak, dinamis. Bukan saja dunia ini berada dalam sejarah, tetapi dunia ini juga adalah sejarah itu sendiri. Pengertian orang Yahudi ini diungkapkan dalam satu kata Ibrani “olam”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa baik saeculum maupun mundus, baik aion maupun kosmos merupakan dua pasangan kata yang tidak dapat dipisahkan dalam pembicaraan pokok sekularisasi.

Sekularisasi dalam Gereja
Gereja pada masa sebelum aufklarung (pencerahan) memandang teologi sebagai ‘regina scientiarum’ ( ratu segala ilmu), di mana semua ilmu yang lain bertitik tolak dari pokok-pokok pemikiran yang diberikan oleh teologi. Itu berarti seluruh pandangan tentang manusia dan dunia berada dalam dominasi teologi. Teologi yang menentukan segala-galanya. Dalam suasana yang demikian, terdengarlah suara-suara seperti ‘cogito, ergo sum’ (aku berpikir, karena itu aku ada) oleh Rene Descartes (1596-1650), ‘sapere aude’ (beranilah menjadi bijaksana) oleh Immanuel Kant (1724-1804). Suara-suara ini merupakan ungkapan keyakinan bahwa manusia, orang per orang, harus memanfaatkan kemampuannya dan akalnya untuk menyelidiki dan mengerti dunia ini. Suara pemberontakan untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi yang sekuler dari yang keramat, suatu pengumuman perang melawan sikap ‘religius’ yang menguasai hidup manusia dan dunia ini. Dengan pemberontakan ini, mulailah ilmu-ilmu pengetahuan terlepas dari dominasi teologi.
Timbulnya masa Pencerahan dilatarbelakangi oleh Renaissance pada abad XV sebagai suatu usaha untuk memberi tempat kepada manusia untuk berdiri sendiri dan tidak bergantung pada kuasa-kuasa lain di luar dirinya sendiri. Juga  Reformasi pada abad XVI yang atas nama Injil menempatkan Alkitab sebagai yang berdiri sendiri, tidak sejajar dengan tradisi; Alkitab memiliki otoritas sendiri dalam gereja. Jadi apa yang terjadi dengan Copernicus (1473-1543), Galileo (1574-1642) dan Johan Kepler (1571-1630) merupakan akibat dari rentetan pemikiran ketiga zaman ini : Renaissance, Reformasi dan Aufklarung.
Selanjutnya, pada abad XVII/XVIII sampai XIX, rasio menjadi dasar pengukur atas ciptaan, di mana sebelumnya Alkitab dipandang sebagai kaidah  pengukur atas ciptaan. Abad ini disebut abad Rationalisme. Konfrontasi iman dan akal budi mulai secara terbuka. Auguste Comte (1798-1857) membagi manusia dalam tiga tahap perkembangan : teologis, metafisis dan positive (ilmiah/scientific). Agama ditempatkan sebagai perkembangan yang sudah lalu. Charles Darwin (1809-1882) mengemukakan suatu teori yang menyatakan bahwa asal semua makhluk hidup adalah dari makhluk yang lebih sederhana dan berkembang secara evolusi dalam jangka waktu yang panjang sekali ke jenis makhluk yang lebih sempurna yaitu manusia. Jadi manusia adalah puncak perkembangan tersebut. Sigmund Freud (1856-1939) muncul dengan teori analisis atas jiwa manusia yang semula dianggap ‘urusan Tuhan’. Ia mengatakan ‘agama adalah ilusi manusia belaka, dan agama merupakan obyek pelarian kejiwaan’. Berturut-turut muncul Karl Marx (1818-1883) dan Frederich Engels (1820-1895) sebagai bapa-bapa materialisme. Ludwig Feuerbach (1808-1872) mengganti konsep Allah menjadi konsep alam, dan alam adalah dasar keberadaan manusia. Akhirnya Friedrich Nietzche (1844-1900), anak seorang Pendeta, mencetuskan ide “God is Dead”, karena tidak ada Allah, manusia harus mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Abad-abad ini merupakan puncak bangunnya ateisme dan agnostisisme.
Apa yang dicapai pada abad XVIII/XIX terus berkembang. Pada abad XX semua teori sebelumnya ditinjau kembali. Teori-teori yang menggoncangkan Alkitab, sekarang digoncang oleh ilmu pengetahuan itu sendiri.   Perkembangan pemikiran dan gerakan-gerakan yang menyertainya telah membawa perubahan di kalangan para teolog. Sarjana-sarjana Kristen mulai membela Alkitab dengan cara-cara ilmu pengetahuan, seperti antara lain Rudolf Bultmann yang mengemukakan teori ‘entmythologisierung/demythologizing’, Paul Tillich yang mengemukakan “Teologi yang Menjawab” dan “Metode Korelasi”. Dua teolog ini berteologi pada jamannya, dalam konteks rasionalisme. Mereka berusaha menjelaskan ‘kebenaran’ dalam Alkitab dengan cara-cara ilmu pengetahuan. Perkembangan terkini dapat kita temui dalam kerja berteologi di sekolah/lembaga pendidikan telogi. Berbagai pendekatan ilmu pengetahuan digunakan dalam pembelajaran teologi.
Teologi tentang Sekularisasi
Pada kesempatan ini, hanya disajikan pandangan dua teolog yaitu Karl Barth, dan  Harvey Cox. Dengan latar belakang konteks berteologi dan bergereja pada masanya masing-masing, mereka menulis pandangannya berikut ini :
Karl Barth
        Barth adalah teolog pertama yang memulai kritiknya terhadap agama. Agama merupakan usaha manusia menjangkau Allah melalui upacara-upacara ibadat. Agama berlawanan dnegan ‘iman’ yang berasal dari Allah, yaitu usaha Allah mendekati manusia.  Tentang dia, Bonhoeffer berkata bahwa Barth “menurunkan Allah Yesus Kristus ke medan perjuangan melawan agama, dan pneuma (roh) melawan sarx (daging)”. Allah yang bertindak dalam dunia tidak tergantung dan tidak terikat oleh suatu apapun yang ada di dalam dunia ini, termasuk agama.  Pandangannya ini didasarkan pada Alkitab, di mana ada suatu perjuangan hebat antara iman melawan agama, yang mencapai puncaknya dan penyelesaiannya di dalam Kristus. Pendobrakan berhala Israel (=agama), bertujuan supaya manusia dapat memasuki iman yang murni dengan Allah yang hidup. Manusia hanya dapat bebas dari agama, bila memandang  Allah sebagai “yang-lain-sama-sekali”, yang tidak diurus oleh manusia lewat usaha-usaha keagamaannya. Karena itulah, maka salah satu pandangan Barth disebut “religion as umbelief”. Pola pemikiran ini dikenakan juga pada agama Kristen.
       Penyataan Allah di dalam  Yesus Kristus (inkarnasi) berarti kritik. Kritik terhadap segala usaha dari pihak manusia untuk sampai kepada Allah. Penyataan ini merupakan pernyataan sifat sekulirnya Injil. Allah yang transenden menjumpai manusia di tengah-tengah kehidupannya sebagai Tuhannnya. Transendensi Allah bukanlah transendensi yang tidak berpengapa dengan manusia.
Harvey Cox
        Cox dalam bukunya The Secular City mencatat tiga dimensi sekularisasi yang bersumber dari Alkitab, yaitu :
1.Dimensi Penciptaan
       Penciptaan sebagai salah satu komponen dasar sekularisasi adalah suatu pembebasan alam dari unsur-unsur ilahi. Manusia pra-sekuler hidup di hutan-hutan yang penuh dengan roh-roh dan kuasa gaib. Manusia menjadi satu dengan kosmos, Sejarah disejajarkan dengan kosmologia, Masyarakat disejajarkan dengan alam, waktu dan ruang. Baik dewa maupun manusia adalah bagian dari alam. Dengan berita penciptaan, maka pandangan manusia pra-sekuler ditantang. Alam dipisahkan dari Allah, manusia dari alam. Matahari, bulan dan bintang-bintang tidak lagi dianggap sebagai makhluk setengah ilahi, tetapi adalah ciptaan Allah untuk menerangi dunia bagi manusia. Susunan kekerabatan menjadi linear dan historis, bukan lagi kosmologia. Kepada manusia diserahkan tanggungjawab untuk menaklukan dunia, dan pemjadi penguasa atas makhluk lainnya. Ia harus melihat kepada Allah yang menyediakan seluruh alam ini untuk dimanfaatkan. Pelepasan dari yang sacral ini mengisyaratkan perkembangan ilmu pengetahuan alam, dan terjadinya pergeseran dari kekangan-kekangan religious tradisional kepada perubahan ilmiah dan teknologis.
2. Dimensi Eksodus sebagai Desakralisasi Politik
        Bagi orang Ibrani, YHWH berbicara melalui peristiwa sejarah yaitu pembebasan dari tanah Mesir, bukan melalui gejala-gejala alam. Pembebasan ini merupakan suatu peristiwa perubahan sosial. Eksodus adalah  suatu tindakan melawan monarkhi yaitu pembebasan dari suatu tata politik sacral dimana kerajaan berdasar pada agama. YHWH selalu dan sennatiasa membuat eksodus baru.
3. Dimensi Perjanjian Sinai sebagai Dekonsentrasi Nilai-nilai
       Orang modern sadar bahwa pandangannya relative dan ditentukan oleh situasi tertentu. Nilai-nilai manusia sekuler telah didekonsentrasikan, bukan lagi ungkapan langsung dari kehendak ilahi. Bagi manusia sekuler, symbol-simbil yang dengannya ia melihat dunia, dan nilai-nilai yang dengannya ia membuat keputusan adalah produk dari suatu sejarah tertentu. Coraknya terbatas dan tidak menyeluruh. Relativisasi nilai-nilai yang merupakan suatu dimensi integral dari sekularisasi mendapatkan akarnya pada setiap larangan terhadap pemujaan berhala. Larangan ini adalah permulaan penolakan tanpa kompromi dari setiap peniruan ilahi dalam Perjanjian Lama. Dilarang menyembah suatu buatan tangan manusia. YHWH adalah satu-satunya yang kudus dari Allah, dan tidak mungkin berasal dari buatan tangan manusia. Di sini dewa-dewa dan nilai-nilai ditelativiser.  Penolakan mutlak terhadap penyembahan berhala dan orang suci, memberikan dasar bagi suatu relativisme yang konstruktif.
       Suatu bahaya dari relativisasi ialah dapat mengarah pada anarkhisme etis dan nihilisme metafisik. Relativisasi nilai-nilai tidaklah memusnahkan dasar-dasar yang ada pada manusia. Untuk itu, pertama-tama dibutuhkan kedewasaan yang penuh. Itu berarti semua manusia harus terikat dalam proses sekularisasi.
Penutup
Pada abad XXI ini, perkembangan sekularisasi di bidang agama pada umumnya dan gereja-gereja pada khususnya, termasuk dalam pendidikan tinggi teologi, mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, kita berhadapan dengan dampaknya baik positif maupun negatif.
1.Sekularisasi sebagai suatu proses sejarah khususnya proses berpikir yang terarah pada prilaku manusia dalam kehidupan beragama, bergereja, menjadi kesempatan sekaligus tantangan beriman di masa kini. Lebih-lebih lagi  tantangan bagi dunia pendidikan tinggi teologi. Pendidikan tinggi teologi sebagai ‘dapur gereja-gereja’ bertugas untuk mengkritisi kembali berbagai ajaran gereja yang tidak mengantarnya pada Allah, yang peduli dengan keselamatan semua ciptaan-Nya.
 2. Sekularisasi bukan tujuan. Ia tidak membawa keselamatan bagi manusia, hanya Yesus Kristus. Jangan-jangan sekularisasi menjadi suatu agama baru dengan sekularisme sebagai berhalanya. Baik berhala lama dan berhala modern menjadi obyek dari proses sekularisasi dan mencegah sekularisme.
3. Gereja-gereja sebagai yang a.l. menjalankan misi-Nya ‘menjadi daging dan tinggal di antara kita’ hendaknya menjalankannya dengan kreatif dan kontekstual. Gereja-gereja terus berbenah diri dalam misinya di dunia, yang pada satu pihak berhadapan dengan pandangan eksklusif, dan pandangan inklusif bahkan pluralis di pihak lain.

Ucapan Selamat
Selamat Hari Ulang Tahun ke-75 buat dosenku, guru besar, Pdt.Prof.Dr.J.A.B.Jongeneel. Selamat juga buat isteri, Ibu Magritha B. Jongeneel-Touw serta anak-anak Christian dan Michael. Saya -mengenal keluarga ini sewaktu mahasiswa Fakultas Teologi UKIT (1976-1980/1981). Semoga Prof. senantiasa dikaruniai kesehatan dan kemampuan untuk terus berkarya dalam gereja dan dunia pendidikan tinggi teologi, baik di Belanda maupun di Indonesia. Saya selalu mengingat bahwa saya memilih konsentrasi studi saya di bidang Teologi Sistematika, karena saya terkesan dengan pengajaran mata-mata kuliah Teologi Sistematika I sampai IV yang diampu oleh Prof. Karena itu, maka pada  penulisan skripsi Sarjana Muda yang berjudul “ Kyrie Eleison” (tahun 1979), dan pada penulisan thesis Sarjana yang berjudul “Sekularisasi. Suatu Studi tentang Pandangan Beberapa Theolog Barat, Pengaruh Sekularisasi di Indonesia dan Bagaimana Seharusnya Gereja-gereja di Indonesia”, (Desember 1981), saya mendapat bimbingan dari Sang Jubilaris. Yang sangat berkesan, selama proses penulisan thesis, kami lakukan dalam cara surat menyurat melalui pos udara. Sebab waktu itu, ‘Mner’ Jongeneel (panggilan kami bagi dosen laki-laki waktu itu) dan keluarga telah kembali ke Belanda. Teologi Sistematika dan Sejarah Gereja sangatlah berkaitan. Untuk itu, terima kasih kepada ibu Magritha yang mengampu mata kuliah Sejarah Gereja Umum 1 dan 2, Sejarah Gereja Asia (SGA).  Terima kasih pula saya haturkan, karena saya mendapat kepercayaan untuk mempersiapkan penulisan buku Penghormatan 75 Tahun ini. Sekali lagi, terimalah ucapan selamat serta harapan dalam bahasa daerah Minahasa dari saya dan keluarga Kapahang-Kaunang : “Pakatuan wo Pakalawiren” (Semoga Panjang umur dan Sehat Sejahtera selalu).
Daftar Bacaan
Cox, Harvey, The Secular City. New York: The Maxmillan Co., 1965
Hartono, Chris, Memahami dan Menghayati Kehidupan Jemaat Sekuler. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1977
Herlianto, Alkitab dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1978
Jongeneel, J.A.B., Catatan Kuliah Sistematika  di Fakultas Theologia UKIT, 1978
Melihat Tanda-Tanda Jaman. Laporan Konperensi Gereja dan Masyarakat. Jakarta : BPK Gunung Mulia,1976
Oranye, L. Sejarah Ringkas Theologia Abad XX. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1975
Tillich, Paul, Systematic Theology I. Chicago: The University of Chicago Press, 1964
---------------, Systematic Theology III. Chicago: The University of Chicagi o Press, 1964
Tinsley, E.J., Modern Theology I , Karl Barth. London : Epworth Press, 1973
---------------, Modern Theology 2, Rudolf Bultmann. London :Epwotrh Press, 1973
Williams, Colin, Iman Kristen dalam Abad Sekulir. Yogyakarta-Jakarta : Kanisius-BPK Gunung Mulia, 1975
Van Leeuwen, A. Th, Christianity  in World History. London : Edinburg House Press, 1964

*Dikutip dari thesis Sarjana Teologi yang berjudul “Sekularisasi. Suatu Studi tentang Pandangan Beberapa Theolog Barat, Pengaruh Sekularisasi di Indonesia dan Bagaimana Seharusnya Gereja-gereja di Indonesia”, Desember 1981. Judul ini dipilih atas arahan dari Pdt.Prof.Dr.Jan A.B.Jongeneel sejak menjadi dosen di Fakultas Teologi UKIT, dan dilanjutkan dengan saran-saran melalui surat menyurat saat Profesor Jongeneel sudah kembali ke negeri Belanda dan melayani sebagai Pendeta Jemaat di Leiden. Yang baru dalam tulisan ini adalah bagian Penutup. Dimuat dalam buku Ziarah dalam Misi, Penghormatan 75 Tahun Pdt.Prof.Dr. Jan Arie Bastaan Jongeneel, SH,  Disunting oleh Karolina Augustien Kaunang. Tomohon : UKIT Press, 2014


PA Pelsus Kakaskasen Eben Haezer

Penelaahan Alkitab Pelayan Khusus
Jemaat GMIM Kakaskasen Eben Haezer
Kamis, 30 Januari 2014.
Pembacaan Alkitab : Yesaya 45 : 20-25; Roma 3:21-26
1.      Yesaya 45 : 20-25
a.       Latar Belakang Umum
Kitab nabi Yesaya  sampai Maleakhi berisi pesan Allah yang ditujukan kepada umat Israel dan Yehuda. Pesan ini disampaikan dalam bentuk khotbah atau pidato, penglihatan dan pengalaman hidup para nabi yang berkarya antara tahun 750 dan 450 SM.
Pemberitaan para nabi berisi :
-          Peringatan  dan penghukuman
-          Pengampunan dan pembaharuan
b.      Latar Belakang Khusus
1.      Arti nama Yesaya ialah YHWH menyelamatkan. Terdiri dari dua kata YHWH dan Yasa. YWHW berarti Tuhan Allah, yasa berarti menyelamatkan. Kata kerja yasa sangat erat kaitannya dengan nama Yesus yang adalah Juruselamat dunia.
2.      Kitab nabi Yesaya berisi nubuat untuk berbagai tahap sejarah Israel sampai pembuangan dan kembalinya mereka dari pembuangan di Babel.  Kitab ini terbagi dalam tiga bagian. Pertama, pasal 1-39, berisi kabar buruk tentang datangnya penghukuman Tuhan Allah. Banyak orang Israel telah menolak Tuhan Allah dengan menyembah allah lain dan mempersembahkan kurban kepada berhala kayu dan batu. Para pemimpin Israel juga membuat perjanjian damai dengan kekuatan-kekuatan asing, pertanda mereka tidak percaya kepada Tuhan Allah, sepertinya Tuhan Allah tidak mampu menyelamatkan mereka. Kedua, pasal 40-55, berisi penghiburan dan pengharapan. Tuhan Allah akan membuka jalan bagi mereka untuk memulihkan Bait Allah di gunung Sion, gunung kudus di Yerusalem. Di sanalah Ia akan tinggal di antara umat-Nya. Ketiga, pasal 56-66, berisi umat Israel diperintahkan untuk membangun kembali Sion dan hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya.
3.      Jadi jelas sekali pasal 45: 20-25 termasuk dalam bagian ketiga. Ayat 20-25 hendaknya dipahami dalam kesatuan dengan ayat-ayat sebelumnya terutama ayat 1-8. Untuk memahami Keadilan Tuhan Allah sebagai tema bulanan  dalam buku MTPJ edisi Februari-Maret 2014, maka ayat 1-8 akan sangat menolong dalam memahami tema ini, bahkan tanpa ayat 1-8 akan sulit memahami naskah ayat 20-25 lebih khusus lagi bila dikhubungkan dengan tema.
c.       Pada kesempatan ini saya menambahkan saja bahan tertulis dalam MTPJ seperti yang saya cata di atas.
1.      Raja Koresy (atau Cyrus) adalah raja Persia, raja yang tidak mengenal Tuhan Allah (YHWH). Hal ini jelas tertulis dalam ayat 4c dan 5b “...sekalipun engkau tidak mengenal Aku”. Umat Israel sebagai umat pilihan Tuhan Allah selalu merasa lebih ‘layak’dipakai oleh Tuhan Allah, ternyata mereka berada di tanah pembuangan di Babel. Mereka  tidak sepenuhnya menyembah-Nya, mereka tidak mengikuti perintah-perintah-Nya. Bahkan mereka turut menyembah patung kayu dan batu yang disembah oleh bangsa Babel.  Tetapi oleh karena Tuhan Allah mengingat janji-Nya kepada nenek moyang Israel “oleh karena hamba-Ku, Yakub dan Israel, pilihan-Ku...”, maka Ia mengurapi Koresy sebagai alat di tangan-Nya untuk membebaskan umat Israel dan menundukkan bangsa-bangsa. Salah satu tanda keadilan Allah di sini nampak, yaitu Tuhan Allah dalam kebebasan-Nya memakai orang lain, orang yang dianggap tidak ‘layak’atau tidak ‘berhak’ untuk menjadi alat keselamatan. Koresy yang tidak mengenal-Nya, diurapi-Nya, dipakai-Nya untuk menyatakan keadilan-Nya.
2.      Melalui Koresy, Tuhan Allah menyatakan bahwa hanya Dialah Pencipta semuanya (ayat 5,6,7). Puncaknya ada dalam ayat 8 “Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri, dan bertunaskan keselamatan, dan baiklah ditumbuhkannya keadilan! Akulah Tuhan yang menciptakan semuanya ini”
3.      Selanjutnya bacaan kita minggu ini ayat 20-25 dan dihubungkan dengan tema minggu ini “Tuhan adil bagi semua orang”, menjadi lebih jelas. Bahwa keadilan Allah pertama-tama menunjuk pada peristiwa penciptaan. Dialah Pencipta dan Penyelamat. Hanya kepada-Nya, umat meminta dan menerima keadilan dan keselamatan  ”Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!” (ayat 21). Selanjutnya, “...dari mulut-Nya keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata : Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam Tuhan...” (ayat 22-23).
2.       Roma 3 : 21-26
Atas dasar teologis pada pasal 1:16 “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, ...”, kita dapat dengan mudah memahami pasal 3: 21-26. Manusia dibenarkan bukan karena mengikuti hukum Taurat, melainkan karena iman kepada-Nya. Kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.  Tentang keadilan Allah, nyata tertulis dalam ayat 25-26.  “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata,bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.
Bila hendak memahami tema minggu ini yaitu Tuhan adil bagi semua orang, maka ayat 28-30 harus dibaca (silahkan seorang pelsus membacanya...  “ Ia juga adalah juga Allah bangsa—bangsa lain. --- baik orang-orang bersunat maupun orang-orang tak bersunat, karena iman)
Pertanyaan :
1.      Berhala apa yang disembah pada masa kini?
2.      Bagaimana kita membebaskan diri dari pengaruh ‘berhala masa kini’?
3.      Berdasarkan Keadilan Allah, keadilan apa yang kita (jemaat dan masyarakat) perlukan sekarang ini ?
4.      Apa tanda-tanda-tanda bahwa Tuhan itu adil bagi semua orang, pada masa kini?



                                             Kakaskasen Tiga, 30 Januari 2014

Memaknai Hari Perempuan Internasional 2013

MEMAKNAI HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL 2013 *
Oleh : Pdt. Dr. Karolina Augustien Kaunang
Tidak banyak orang yang tahu bahwa tanggal 8 Maret adalah hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Jurnal Perempuan pernah menulis bahwa hari ini sebagai hari yang tidak populer, tentu di Indonesia. Hari yang populer adalah Hari Kartini (21 April) dan Hari Ibu (22 Desember).
Tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional pada tahun 1910 pada acara Kongres Perempuan Pekerja Internasional di Kopenhagen. Penetapan hari ini diusulkan oleh Clara Zetkin, seorang orator dan pendiri surat kabar De  Gleicheit (Persamaan), ia juga sebagai anggota International Ladies Garment Union dan anggota Partai Sosialis Jerman. Penetapan hari ini berawal dari aktivitas gerakan kaum buruh di seluruh Eropah dan Amerika Utara.
Kemudian pada tahun 1975 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaksanakan Hari Perempuan Internasional di kota Meksiko, sekaligus menetapkan tahun ini sebagai Tahun Perempuan Internasional. Selanjutnya menetapkan tahun 1975-1985 sebagai Dekade untuk Perempuan. Sejak saat itu, PBB merayakan setiap tahun dengan tema-tema a.l. Perempuan dan Perdamaian: Perempuan Memenej Konflik (2001), Perempuan dan HIV/AIDS (2004), Perempuan dalam Pengambilan Keputusan (2006), Perempuan dan Laki-laki Bersatu untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (2009), Persamaan Hak, Kesempatan yang sama : Kemajuan untuk Semua (2010), Pemberdayaan Perempuan Desa _ Mengakhiri Kelaparan dan Kemiskinan (2012). Dan tahun ini bertema The Gender Agenda : Gaining Momentum
Mengapa hari ini didedikasikan khusus untuk perempuan? Ada dua alasan yaitu mengakui fakta bahwa terjaminnya kedamaian dan kemajuan sosial serta kegembiraan perempuan; dan menyatakan kontribusi perempuan kepada penguatan keamanan dan kedamaian internasional. Bagi kaum perempuan sedunia, simbolisme hari ini mempunyai arti yang luas yaitu kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana mereka berjuang untuk persamaan, perdamaian dan pembangunan. Juga kesempatan untuk bersatu, membangun jejaring dan bergerak untuk perubahan yang penuh arti.
Beberapa hasil yang dicapai dalam memaknai perjuangan kaum perempuan internasional ialah ditetapkannya berbagai konvensi seperti a.l. Konvensi Internasional Penghentian Perdagangan Perempuan Dewasa (1934), Hak-hak Politik Perempuan (1946), Menghentikan Perdangangan Perempuan dan Anak (1948), Pengupahan yang Sama bagi Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya (1951), Perlindungan Kehamilan (1952), Kondisi Kerja Buruh Perkebunan (1958), Anti Diskriminasi dalam Pendidikan (1960).
Gerakan bersama ini ditanggapi positif oleh gereja-gereja sedunia melalui World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja se-Dunia), DGD menetapkan tahun 1988-1998 sebagai Ecumenical Decade of Churches in Solidarity with Women (Dekade Ekumenis dari Gereja-gereja dalam Solidaritasnya dengan Perempuan). Ada empat perhatian penting yang memanggil gereja-gereja untuk menyatakan solidaritasnya dengan perempuan, yaitu – partisipasi penuh dan kreatif dari perempuan dalam kehidupan bergereja, - melawan tindak kekerasan terhadap perempuan dalam bermacam bentuk dan dimensi, - krisis ekonomi global dan pengaruhnya kepada perempuan, - xenophobia dan rasisme dan pengaruhnya bagi perempuan.
Mencermati sejarah gerekan perempuan dan perhatian dunia pada umumnya serta gereja-gereja sedunia pada khususnya, maka saya tertarik untuk untuk memperhadapkannya bagi kehidupan kaum perempuan masa kini di tanah Minahasa. Pertama, status dan peran perempuan dalam budaya Minahasa seperti terlihat a.l. dalam cerita rakyat Lumimuut-Toar dan tradisi/adat istiadat yang menempatkannya setara dengan kaum laki-laki, nilai kemanusiaannya dihargai sama. Pada tataran pemahaman ini, seharusnya tidak ada perlakuan yang tidak adil atau tidak setara antara perempuan dan laki-laki. Kedua, berdasarkan hasil penelitian mahasiswa Fakultas Teologi UKIT dalam pembelajaran Teologi Feminis ditemukan kenyataan masa kini seperti a.l. kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan ini terjadi karena a.l. suami sudah punya ‘wanita idaman lain’, suami tidak boleh ditegur, suami mabuk dan kalah berjudi. Ketiga, masih dari hasil penelitian mahasiswa khususnya tentang perempuan dan ekonomi. Banyak perempuan/ibu yang menjadi pencari nafkah utama bagi keluarganya, terutama untuk kebutuhan anak-anaknya. Mereka adalah para ibu yang bekerja sebagai ‘tibo-tibo’ di pasar Tomohon, pedagang kaki lima di Manado dan tukang parkir di pusat perbelanjaan kota Manado. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa mereka memutuskan untuk bekerja seperti ini sejak ditinggalkan suami dalam waktu yang cukup lama tanpa kabar berita, ada pula yang ditinggalkan oleh suami karena suami sudah terlanjur berhubungan gelap dengan perempuan lain. Padahal anak-anak  membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Penelitian yang terakhir ini menunjukkan dua hal. Pertama, perempuan punya potensi diri untuk pembangunan ekonomi keluarga. Dalam hal ini perempuan bukan hanya pencari nafkah tambahan. Perempuan yang seperti ini adalah tipe perempuan yang tidak mudah menyerah, dia  selalu siap berjuang mempertahankan apa yang menjadi haknya seperti hak mengasuh dan membiayai anak-anaknya. Dengan kekuatan dan ketrampilan yang Tuhan karuniakan kepadanya ia berjuang untuk anak-anaknya. Dia mandiri. Kedua, ada perempuan/isteri yang baru mengambil prakarsa untuk bekerja mencari uang dengan membuka usaha warung atau kantin, jadi tukang parkir, saat suami/laki-laki mengalami sakit atau sakit-sakitan, atau setelah suami meninggalkannya tanpa berita bahkan ada nyata-nyata meninggalkannya. Penelitian mahasiswa ini menunjukkan bahwa di tengah kemajuan jaman secara global dan di tengah masyarakat Minahasa yang berbudaya egaliter dan demokratis, terdapat pandangan dan perlakuan yang diskriminatif terhadap perempuan.
Harkat dan martabat kaum perempuan sebagai anak, isteri, ibu, anggota masyarakat dalam kehidupan bersama masih dipengaruhi secara signifikan oleh sistem masyarakat patriarkhat dan cara pandang androsentrisme. Kenyataan khusus dalam konteks masyarakat Minahasa, perempuan masih mengalami perlakuan yang tidak adil.
Di hari perempuan ini, marilah kita mengingat perempuan-perempuan yang menderita ketidak-adilan hak dan martabatnya. Kita mengingat mereka dalam doa dan karya. Kita berjuang untuk memperbaiki sistem  dan tata nilai kemanusiaan perempuan dalam kesetaraan dan keadilan dengan laki-laki. Kita mengundang laki-laki/bapak-bapak/suami untuk bekerja dan berjuang bersama membangun kehidupan yang bermartabat. Kita kembali kepada hakikat penciptaan yaitu bahwa Tuhan Allah mencipta manusia perempuan dan laki-laki sebagai Imago Dei.
Saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip sebuah surat yang saya terima pada 10 tahun silam (2003).
http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/65912_10200909597044506_1613992919_n.jpg
Tomohon, 08 Maret 2013

*Naskah awal sudah pernah dipublikasikan dalam tabloid Inspitaror, edisi Februari-Juni 2012.

Mengikut Yesus tanpa Malu dan Takut

Renungan untuk BAKI PGI 2015
Minggu, 1 Maret 2015 (Minngu 2 Pra Paskah)

Markus 8: 31-38
Mengikut Yesus tanpa Malu dan Takut

Kita banyak mendengar di kalangan kita, gereja-gereja, ada upaya-upaya untuk ‘memelihara’ umat Tuhan melalui latihan-latihan kerohanian yang membangkitkan semangat kerohanian yang cenderung eksklusif dan sektarian. Di kalangan pemuda dan mahasiswapun, upaya-upaya serupa terjadi, sebagai contoh dalam suatu latihan kepemimpinan pemuda saya diminta memfasilitasi percakapan tentang ‘kepastian keselamatan’. Dalam diskusi, cukup kuat dianut pandangan agar pemuda gereja tidak bergaul dengan pemuda yang berbeda agama. Mereka kuatir nanti terjadi perbauran keyakinan yang berujung  meninggalkan keyakinannya. Saat saya menyampaikan beberapa masalah sosial kemasyarakatan, kurang mendapat tanggapan.
Dalam suatu kesempatan di kalangan kampus, saat berbicara tentang spiritualitas, saya mengatakan spiritualitas seseorang akan nyata saat ia berada, berbaur dengan kenyataan keseharian : berada di lingkungan orang-orang yang suka mabuk, dan anda tidak ikut mabuk; berada bersama dengan yang berbeda keyakinan, dan anda tetap yakin akan keyakinanmu. Dengan kata lain, spiritualitas akan nyata bukan terutama pada saat mengikuti ibadah-ibadah seremonial, pada hebatnya adu argumentasi keyakinan, melainkan pada dan harus nyata turut berpartisipasi aktif menanggulangi permasalahan dalam masyarakat.
Saya ingat waktu saya praktek KKN di salah satu desa di Kabupaten Minahasa pada tahun 1978. Bersamaan dengan itu, juga praktek di jemaat yang berlokasi di dua desa. Satu jemaat di dua desa. Praktek KKN saya di desa A.  Jadi ada kesempatan memimpin ibadah jemaat. Sehari kemudian, saya mendapat informasi bahwa saya akan dilaporkan ke polisi oleh Hukum Tua/Kepala Desa B, karena menentang pemerintah desa. Wah...untung saja pendeta memberi penguatan pada saya agar khotbah saya yang tertulis itu, disiapkan atau diperlihatkan bila memang saya dilaporkan karena khotbah itu. Nah, bahan Alkitab yang mendasari khotbah saya ialah pembacaan ini, Markus 8:31-38. Saya memberi contoh ‘bila ada pengumuman pemerintah untuk kerja bakti pada hari/waktu kita beribadah, kita tidak harus ikuti… nanti cari hari/waktu lain’. Hal ini sengaja saya angkat karena pernah terjadi hari minggu, waktu ibadah di gereja, diumumkan oleh Hukum Tua/Kepala Desa untuk kerja bakti. Sebaliknya, kalau jemaat bekerja bakti untuk mengumpulkan batu dan pasir dari sungai untuk pembangunan gedung gereja, sang Hukum Tua itu tidak senang, padahal ia juga adalah salah seorang anggota jemaat. Benar…saya dilaporkannya ke polisi. Polisipun datang di kantor desa A dan bertanya kepada Hukum Tua A tentang keberadaan saya. Akhirnya, hanya naskah khotbah saya yang mereka minta.
Kembali ke naskah kita hari ini. Yesus mengajar  para murid-Nya, bahwa Ia, Anak Manusia harus  menderita, ditolak oleh tua-tua, imam-iman kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Yesus-pun kemudian berkata kepada orang banyak bahwa setiap orang yang mau mengikut-Nya, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Yesus…sebab  barangsiapa malu karena Yesus dan karena perkataan-Nya… Ia, Anak Manusia-pun akan malu karena orang itu…
Ternyata pengajaran bahkan pernyataan tentang penderitaan Yesus bukanlah suatu teori belaka, melainkan suatu kenyataan yang bertolak dari pengalaman hidup-Nya. Pengalaman penderitaan-Nya ini adalah jalan keselamatan kita. Keselamatan sangat terasa di saat-saat yang sulit dan terpuruk.  Penderitaan dan  kematian Yesus berakhir dengan kebangkitan-Nya. Artinya, penderitaan dan bahkan kematian bukanlah tujuan, tetapi jalan menuju pada kebangkitan, atau kemenangan. Sebab itu, kita para pengikut-Nya tetap siap dalam segala situasi, terutama dalam situasi sulit, untuk menyatakan kepengikutan kita tanpa malu dan tanpa takut.  Kalau harus menderita demi Yesus dan Firman-Nya, maka kita sedang turut menderita bersama-Nya menuju kehidupan kekal.
Kita sedang berada di minggu ke-2 Pra Paskah. Mari kita bertanya dan berefleksi, apakah kita sedang mengikut Dia dengan menyangkal diri dan memikul salib kita? Apakah di tengah permasalahan kemasyarakatan, kita berada di sana, tanpa malu dan tanpa takut, atau kita tidak berada di sana karena malu dan takut, atau kita hanya sibuk dan tekun beribadah seremonial yang eksklusif dan sektarian saja, dan dengan bangga mengklaim diri sebagai yang paling benar, paling kudus, paling suci? Mari kita jawab dalam komitmen iman yang sungguh, tegar dan tangguh. Semoga. Amin. (KAK)


Iblis Mencobai, Namun Allah Melindungi Umat yang Setia

Renungan untuk BAKI PGI 2015
Minggu, 22 Februari 2015 (Minggu I Pra Paskah)
                                                          Markus 1 : 9 – 15
                                Iblis mencobai, namun Allah melindungi umat yang setia.
Tuhan Allah menciptakan segala sesuatu  baik adanya. Berarti segala yang tidak baik atau yang buruk bukanlah ciptaan-Nya. Iblis adalah representasi dari yang buruk bahkan yang jahat itu. Keberadaannya itu akan berarti bila sasarannya yaitu manusia mengatakan ‘ya’ kepada kehendaknya atau lebih tepat rayuannya, cobaannya. Sasarannya bukan hanya manusia biasa,  tetapi juga   manusia yang luar biasa yaitu Yesus.
Dalam bagian Alkitab yang paralel yaitu Matius 4:1-11 dan Lukas 4:1-13, kita membaca isi cobaannya. Saat lapar, Ia, Yesus dicobai dengan makanan. Iblis tahu Yesus itu Mahakuasa, yang dapat memerintah batu jadi roti. Yesus tidak mengikutinya. Kuasa Yesus bukan untuk didemonstrasikan atau dipertontonkan atau dilombakan. Kuasa Yesus bukan untuk kesombongan diri sendiri, melainkan untuk pelayanan kasih. Yesus membelajarkan iblis bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Inilah cobaan pertama. Karena iblis tidak berhasil. Ia lanjut dengan cobaan kedua. Di atas bubungan Biat Allah, Yesus digodanya untuk menjatuhkan diri ke bawah nanti ada malaikat-malaikat membawa-Nya di atas telapak tangan supaya kaki-Nya tidak terantuk pada batu. Yesus menolak cobaan ini “jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu”. Cobaan ketiga, Yesus dibawanya di atas gunung yang sangat tinggi, dipertontonkannya segala kemegahan dunia. Kata iblis ‘semua ini akan kuberikan kepada-Mu bila Engkau menyembahku’. Nah, sekarang ketahuan maksud iblis yang sebenarnya, yaitu agar Yesus menyembahnya. Kali ini, Yesus tidak mengkhotbai iblis, melainkan mengusirnya “Enyahlah iblis, sebab engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dialah engkau berbakti.”
Cobaan iblis kepada Yesus sangat berkaitan erat dengan hal-hal yang dicari-cari dalam hidup kita manusia,  yaitu makanan sebagai kebutuhan pokok, takhta (profesi/jabatan/kuasa memimpin), harta (menjadi kaya). Kalau Tuhan Yesus saja dicobai iblis, apalagi kita manusia ini. Bahwa iblis tidak berhasil mencobai Yesus, karena Dia itulah yang harus disembah dan dimuliakan. Yesus yang baru saja dibaptis oleh Yohanes, dan Roh turun ke atas-Nya, memimpin-Nya ke padang gurun. Di situ Ia dicobai oleh iblis.  Bagi saya hal ini menunjukkan bahwa ketaatan, kesetiaan seseorang akan nampak bila ia mampu mengatasi berbagai cobaan, rayuan di tengah kesulitan, di ‘padang gurun’ kehidupan ini, dan mengatakan ‘tidak’ terhadapnya.  
Terlalu banyak contoh tentang ketidakmampuan kita menolak rayuan, godaan iblis. Iblis dapat saja mewujud dalam kehendak pribadi yang tidak benar, tidak baik, yang jahat, dengan menjahati orang lain. Iblis dapat saja mewujud dalam hal-hal yang kelihatan menyenangkan, menguntungkan secara instant dan sesaat, seperti antara lain memperoleh gelar akademis tanpa sekolah. Iblis dapat mewujud dalam memperoleh jabatan dan kuasa baik dalam masyarakat maupun dalam gereja. Dan banyak lagi praktik-praktik jahat lainnya.
Nah, di minggu pertama Pra Paskah ini, di Minggu Sengsara ini,  kita beroleh kesempatan khusus untuk menghayati kesengsaraan dan penderitaan Yesus. Dia, Yesus memberi contoh kepada kita. Dia berpuasa untuk dapat melawan dan menolak segala godaan termasuk godaan makan di saat paling lapar, godaan pamer kuasa dan harta duniawi dengan cara takluk pada kejahatan.
Hidup kita di masa kini dan masa yang akan datang akan semakin rumit seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Persaingan hidup antar manusia akan makin terbuka lebar. Pengaruh positif dan negatif sering bertindih tepat, sehingga diperlukan kepekaan, ketelitian, kesungguhan memilah dan memilihnya menjadi jalan hidup kita. Pendek kata persaingan sehat harus menjadi jiwa dari moral dan etika bermasyarakat majemuk.
Bila memang jalan untuk dapat memilah dan memilih yang benar, yang  baik, yang adil, yang jujur adalah penderitaan, maka Yesus telah memberi contoh hidup setia kepada-Nya. Hanya orang yang hidup dalam kuasa Roh, orang yang kuat dan setia pada komitmen imannya, yang dimampukan Tuhan untuk melawan segala godaan dalam hidup ini, termasuk godaan kesenangan semu di tengah kesulitan hidup. Hidup setia baik dalam suka maupun duka adalah panggilan iman dalam memaknai kehidupan pemberian-Nya ini. Amin. (KAK)



Menantikan Tuhan adalah Memperjuangkan Keadilan-Nya

Renungan untuk BAKI PGI 2012
Minggu Adven 4, 23 Des 2012
Mazmur  146 : 1 – 10
                                               Menantikan Tuhan adalah memperjuangkan keadilan-Nya.
Oleh : Pdt. Dr. Karolina Augustien Kaunang.
Menantikan Tuhan tidak berarti Tuhan baru akan datang. Menantikan-Nya adalah suatu tindakan responsif atas akta kelahiran-Nya.  Sebab Dia yang telah lahir terus berkerja sampai sekarang menuju kegenapan-Nya. Dalam pengertian ini kita menghayati   minggu adven 4 ini yang  sisa dua hari lagi tiba hari Natal. Jadi menanti berarti aktif melakukan sesuatu. Di sini tidak berlaku ungkapan : pekerjaan yang paling membosankan adalah menanti/menunggu. Menanti dengan aktif membahagiakan sebab sudah jelas titik berangkatnya dan untuk apa serta hendak kemana atau sampai di mana.
Pembacaan Alkitab ini adalah salah satu dasar dari hal menantikan Tuhan dengan tindakan nyata. Ayat 1-2 adalah hakikat orang percaya yaitu memuji dan memuliakan Tuhan selama ia hidup. Sebab Dia yang menjadikan dunia ini dan yang tetap setia untuk selama-lamanya (ayat 6,10). Dan dalam ayat 3-5 ada  nasihat agar hanya mempercayakan hidup orang percaya dan senantiasa berharap kepada Tuhan sumber keselamatan. Orang yang demikian adalah orang yang berbahagia.  Kesetiaan Tuhan itu menyangkut penegakan keadilan  bagi  mereka yang diperas, yang lapar, yang terpenjara, yang buta, yang dizalimi, yang benar, orang asing, anak yatim dan janda. Sedangkan jalan orang fasik (tidak pedulikan kehendak Tuhan, kelakuan buruk, jahat) dibengkokkan-Nya (ayat 7-9).
Bila orang percaya mengatakan bahwa kehidupannya adalah berdasarkan kehendak Tuhan atau mengikuti pola pelayanan Tuhan, maka pembacaan ini terutama ayat 7-9 harus menjadi tugasnya juga. Memuji dan memuliakan Tuhan dalam segala jenis ibadah bukanlah terpenting apalagi satu-satunya cara. Ibadah-ibadah liturgikal-seremonial hanyalah salah satu cara. Cara ini terlalu sering dilakukan orang percaya, dan melupakan cara yang  lain. Yang lebih parah lagi bila isi Firman dalam ibadah itu seperti syair dalam nyanyian, doa dan khotbah/renungan hanya tertuju pada masalah-masalah kebatinan dan kerohanian sempit dan individual. Atau sekedar pemuasan keinginan batiniah seorang. Padahal ibadah-ibadah liturgikal-seremonial  harus menjadi salah satu pangkal bertolak maju melakukan perubahan dan pembaharuan budi  dengan melakukan yang benar, adil, jujur dalam hidup pribadi, keluarga dan dengan  serta untuk semua orang.
Menantikan Tuhan Allah pada masa kini tidak bisa tidak yaitu memperjuangkan keadilan menurut kehendak-Nya, yaitu berpihak kepada mereka yang kecil, miskin, terpinggir, tertindas, dikerasi secara struktural.  Siapapun yang menjadi korban baik oleh pribadi-pribadi maupun oleh lembaga keumatan (tak terkecuali oleh lembaga agama/gereja) dan lembaga negara/pemerintah  harus menjadi sasaran dari perjuangan ini.
Terlalu kentara dalam di minggu-minggu adven, orang kristen menjadi lebih ‘manusiawi’ dengan kegiatan ‘berbagi kasih’ dengan anak-anak yatim piatu, orang miskin, orang jompo. Kegiatan ini bahkan sampai disiarkan melalui media massa dan elektronik. Kegiatan seperti ini belum menjadi program rutin sebagai tanda solidaritas yang berkelanjutan dan bahkan sampai pada upaya menemukan akar persoalannya untuk ditangani secara komprehensif. Terlalu sering, di saat-saat menjelang hari Natal, terjadi percekcokan karena uang tabungan, uang paket, beli pakaian sepatu, perabot rumah tangga, kumpul sumbangan. Akibatnya minggu adven sebagai saat-saat merenung  kembali (refleksi) dan bertindak (aksi) untuk keadilan dan kebenaran terabaikan.
Tinggal dua hari lagi kita akan merayakan Natal pertama dan masih ada waktu Tuhan bagi kita menanti kedatangan-Nya kedua kali. Mari kita memperjuangkan hidup kita pada umumnya yang masih berada dalam kesusahan, kemiskinan, ketidakadilan hukum dan hak asasi pada satu pihak, dan banyak pula yang terlilit oleh penyakit masyarakat, dibelenggu oleh nikmatnya kuasa, jabatan dan uang bahkan seks.
Perayaan Natal akan menjadi syaloom bagi kita bersama bila keadilan terus menjadi visi kita dan kita terus bermisi yakni berjuang membela yang adil dan benar sampai Tuhan datang kembali. Selamat merayakan Natal Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dunia. Amin





Memberi Persembahan dengan Tulus

Memberi Persembahan dengan Tulus *
Markus 12 :38-44


Ada orang yang memiliki kekayaan yang luar biasa banyaknya, tetapi juga ada banyak sekali orang yang hidupnya susah dan miskin. Ada kesenjangan yang amat kentara baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pertanyaannya di sini ialah apakah  orang yang kaya lantas secara spontan rela memberi dan berbagi. Saat saya berkunjung melayani di jemaat-jemaat, saya mendapati bahwa yang lebih banyak dan besar memberi dan berbagi adalah jemaat yang  berkekurangan daripada jemaat yang berkecukupan bahkan berkelebihan. Begitu juga dalam hal keramahan dan ketulusan. Banyak orang memberi untuk mengumpul bagi dirinya/kelompoknya/jemaatnya/gerejanya, tetapi masih kurang orang berbagi dari apa yang dikumpulkannya. Makanya tidaklah heran bila banyak uang tapi tidak pernah merasa cukup, akibatnya jatuh dalam perbuatan korupsi. Sedangkan orang yang mengumpul untuk berbagi karena ia ingin menjadi berkat bagi yang lain, ia berbagi dengan tulus tanpa maksud untuk sosialisasi diri.

Pembacaan Alkitab perikop kedua yaitu ayat 41-44 menceritakan tentang seorang janda miskin yang memberi persembahan dari semua yang ada padanya. Pada waktu yang sama banyak orang memberi persembahan dalam  jumlah yang besar. Tuhan Yesus memandang bahwa pemberian janda miskin ini lebih banyak daripada pemberian semua orang lainnya. Itu berarti selain banyak orang kaya, ada pula orang yang tidak kaya di situ, mungkin bertaraf ekonomi menengah atau kurang selain si janda miskin ini Dalam hal ini Yesus lebih melihat pada prosentase daripada sejumlah angka. Si kaya memberi banyak dari kelimpahannya, mungkin pemberiannya hanya sepersepuluh (10%) dari keseluruhan miliknya, yang lain mungkin memberi 50% sampai 75%. Sedangkan si janda miskin memberi 100%. Tuhan Yesus memandang pemberian persembahan dalam hal kualitas (prosentase) dan bukan pada kuantitas (jumlah nominal uang). Persembahan janda miskin ini dapat dihubungkan dan dimaknai dengan hakikat persembahan seluruh tubuh seperti yang tercatat dalam  Roma 12: 1 “ …supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah : itu adalah ibadahmu yang sejati”. Jadi, pandangan Yesus jelas bahwa persembahan itu adalah seluruh hidup. Dasar teologis di bagian Alkitab ini ialah memberi karena sudah diberi, memberi dengan tulus bukan karena peraturan atau ketentuan. Dalam hal ini, perlu jelas apa maksud kita dengan persembahan persepuluhan pada masa kini : hanya untuk dan dalam ibadah di gereja-kah ?

Saya membayangkan seorang pendeta/gembala sidang duduk di bagian depan dekat mimbar menghadap tempat/kotak persembahan dan memperhatikan anggota jemaat yang memasukkan uang ke dalamnya. Apalagi sekarang ini sudah ada jemaat yang membuat kotak persembahan yang seluruhnya terbuat dari kaca tembus pandang. Saya merasa tidak sejahtera bahkan sedikit ‘marah’ menyaksikan kotak persembahan ini.  Ada orang kaya yang memberi dengan jumlah yang besar dalam sampul yang tertera namanya, dan ada seorang janda miskin memberi semua uang yang ia miliki tanpa sampul Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh  pendeta/gembala sidang itu? Kemungkinan besar ia akan mengumumkan jumlah  uang pemberian dari orang kaya itu. Sebab baginya yang penting kuantitas (berapa besar jumlah uang) bukan kualitas (berapa persen). Bahkan kepada anggota jemaat kaya itu disampaikan ucapan terima kasih yang hangat serta pujian. Sementara itu, pemberian anggota jemaat yang miskin itu luput dari perhatiannya. Jadi persoalan di sini bukan pertama-tama kepada orang yang memberi, tetapi pada pandangan (teologi) dari pendeta/gembala sidang itu. Bila bayangan saya itu terjadi, maka yang pertama-tama harus berubah ialah si pendeta/gembala sidang itu. Jangan-jangan teologi (alkitabiah) yang ia ketahui tidak mampu dipraktekkan dalam pelayanannya. Dalam hal ini, ayat 38-40 pembacaan awal kita perlu mendapat perhatian yaitu agar berhati-hati terhadap ahli-ahli Taurat.

Memberi dari kekurangan menurut ukuran manusia, ternyata menurut Yesus si janda miskin itu telah memberi dari seluruh yang dia miliki. Kekayaan dari si janda miskin ini ialah ia tidak kuatir akan hidupnya termasuk akan apa yang ia akan makan dan minum nanti. Ia kaya dalam kemurahan. Ia kaya dalam spirit hidup..Iapun memberi tanpa maksud apa-apa, apalagi untuk pamer dan cari nama. Dengan memberi seluruhnya maka ia telah  turut bersama dalam penyaluran berkat Tuhan yang digunakan untuk membangun kehidupan persekutuan.

Dalam dunia sekarang, di mana orang semakin individualistis dan yang mengukur segalanya dengan uang, telah menyebabkan orang berduit, pejabat publik yang berjabatan gerejawi (Pendeta/Penatua/Syamas atau Diaken) dan aktivis gereja terlibat praktek korupsi. Korupsi bukan sekedar mengambil yang bukan haknya, tetapi bersamaan dengan itu juga melakukan ketidak-adilan, ketidak-jujuran dan ketidak-benaran. Bukan tidak mungkin yang menjadi korban adalah anggota jemaat yang ia sendiri layani sebagai pelayan jemaat, dan sudah pasti yang menjadi korban adalah anggota masyarakat yang ia layani sebagai pejabat publik.
Sementara itu banyak orang yang berkekurangan bahkan miskin kurang mendapat perhatian dari gereja, padahal mereka itulah yang paling banyak menyumbang tenaga dan segala yang ada padanya dengan tulus untuk kebersamaan/persekutuan. Mereka adalah pelaku pontensial dalam berjemaat/bermasyarakat. Mereka adalah subyek dan obyek dalam kebersamaan yang setara dengan semua orang dalam bergereja/bermasyarakat. Kekayaan gereja adalah orang dan bukan uang. Bila demikian  maka dengan sendirinya seluruh yang ada padanya juga. Inilah kekayaan dan kekuatan bersama. Inilah karunia Tuhan yang harus terus menerus diberdayakan dan memberdayakan. Amin


  • Dimuat di Harian Tribun Manado, Minggu 31 Agustus 2014, hlm 1 dan 7